jakarta, lumpur beribu bintang.
Sunday, November 18th, 2007mo nulis pa lagi ya?? mm, aku coba mengkomentari kondisi jalanan di jakarta. sumpe, jakarta padat merayap penuh gelimang anak onta,ee.,anak manusia cing. berbaur menyerbu satu jalan, menyempit hingga lorong air pun ibarat jurang terdalam. aku mencoba bertahan, mengahadap mimpi yang selalu kukenang, setiap pagi raungan motor, keluaran asap mobil tahun jadul, seakan bergerak perlahan membunuh jiwa, mengejar tiap hembusan nafas, bergantin zat termakan suasana. Yap, emosi kita bergantung tepat 5 cm didepan kepala kita, gampang terlihat, gampang tersulut. mau apa? ini telah terjadi lama, hingga menjadi suatu rutinitas tak terkira.
mobil berwarna sama itu melintas dalam gelap amarah. bermain elok ke kiri, dengan satu ucapan sim salabim, ia dikanan. remuk jiwa aku bertahan, melihat lama henti tak bergerak. aku coba hindar segala pandangan dari yang bergantung 5 cm itu. coba liat dunia lain, berharap berganti menang ku ingin. banyak hal coba ku tanya, berapa lama sudah semua berjalan? rasanya ingin raga ini terbang, tapi tak bisa, aku berbatas keadaan.
itulah hari menyedihkan dalam hidup seorang pengembara, perlu ratusan jam untuk sampai pada satu titik kepuasan, perlu melewati ratusan emosi berbagai jiwa, dan perlu merasai jutaan zat tak tau rasa. ini berlalu, hingga aku pun akan berlalu, saling mengisi satu rongga hidung dengan kepentingan arahku.
kacau benar jalan di jakarta….,.,
tak mengapa asal ada rasa yang kuraba, ku belajar berkata tapi kutahan, ku belajar membaca arah perjalanan, hingga ku tahu apa rasa yang terhalang. semua mengisi dalam raga dan jiwa, aku hembuskan baik, ya baik, aku hembus rasa buruk, emang buruk yang ku kenal. ada rasa belajar dalam hidup, mencoba berkata pada kita, tapi tak sanggup. ia hanya berkata, “tolong paksa jiwa, belajarlah!”
ambil makna terbesar dalam arah langkah terhenti, mencoba belajar arah pandang suasana hati, jalan jakarta kemudikan diri, melihat peluang ada untuk dihadiri, “kau lihat itu, anak muda?” ia berkata dalam lautan jiwa ku yang sedang direbus amarah buruk, “itu peluang, ayo lewati itu”. ya, aku baru dengar ia berkata, ada peluang bagus anak muda, sekarang pilihan itu berada pada pundak seorang raja pengembara, berfikir melampau kecepatan waktu yang bergejaran, antara ada dan tiada, merumuskan setiap pangkal masalah , mengembil keputusan dalam sekejap kilat menghujar deras, ambil atau tidak, jakarta beri banyak makna. ia menunggu kita, menunggu kita, belajar dari apa yang ada……
dan jakarta…., ini aku.