Ibu Sudarti
Tuesday, April 29th, 2008Hari penuh pertimbangan. bagaimana tidak? saya diberi satu kondisi yang peluang terjadinya itu kecil. begini, hari ini saya mengajukan permohonan kepada koordinator akademik agar saya diikutsertakan pada ujian susulan. segala perlengkapan yang perlukan, telah saya sertakan. kecuali surat keterangan sakit, karena saya hanya punya surat istirahat dari dokter. sebenarnya tadi malam sudah saya datangin klinik tempat saya berobat, namun dokter yang memerikasa saya tidak ada ditempat, jadilah saya tidak bisa mendapatkan tanda tangannya. sebenarnya kalau mau curang itu bisa, tinggal nego aja sama karyawannya, trus minta tanda tangan palsu, selesai. cuman, apa tindakan itu benar? sama aja kita membohongi fakultas. bagaimanapun, saya punya prinsip, mulai dengan bismillah, akhiri dg alhamdullillah dan istigfar. walaupun emang terkadang suka berbuat nakal. cuman tidak dalam hal ini, karena niat saya emang mau ujian, ujian karena menjalankan perintah TUhan, gw paling inged dosen saya politik saya ngomong, IQRA’, bacalah….artinya belajar itu perintah Tuhan, dan berpahala. jadi untuk tujuan mulia, kenapa disisipi dengan tindakan tercela dan menjatuhkan harga diri. itu hanya kasus kecil saja.
oke, hari ini saya menghadap Ibu Sudarti, sebenarnya surat permohonan ini ingin saya berikan langsung pada Ibu anita, koordinator akademik kampus f, namun baru saja saya sampai di depan kantornya, saya liat pengumuman di dinding kacanya waktu itu, bahwa bagi yang mengurus UTS susulan, harap menemui Ibu Sudarti Lantai 2 F. wah, makin deg-deg an ini. maklum saya belum terbiasa menghadapi orang yang mempunyai jabatan. saya sering beranggapan, orang yang punya jabatan itu, suka sokan, menganggap kita anak kecil saja. cuman, tidak semua sih. untuk Ibu anita, saya tahu dia baik, dan pengertian. untuk kasus saya, sebenarnya diizinkan, cuman ketika kita ada dalam satu institusi, kita harus patuh pada hukum didalamnya, termasuk tidak diperkenankanya mahasiswa ujian susulan kecuali bagi yang dirawat inap. untuk hal lain, itu berdasarkan kebijaksanaan. jadi, kasus saya ini, demam tinggi dan surat istirahat, masih dalam mengharapkan keajaiban…kecil sekali peluang di setujui.
pertama kali tiba diruang yang dituju, saya ketok pintu, setelah berbasa basi pake ucapan selamat siang! saya langsung mencari tahu siapakah yang bernama ibu sudarti. wah, saya beruntung! ibunya itu keibuan, tidak berlanggak sok arif, dia menjalankan tugasnya dengan tenang.cuman terlihat agak letih saja diwajahnya.
ibu itu agak pesimis juga mengenai permohonan ujian susulan saya, cuman omongannya yang tidak menggurui itu membuat saya makin menerima kenyataan. yah,,kalu emang tidak bisa. tidak apa apa. saya siap dengan resiko. toh hidup adalah pilihan.
Ibu sudarti menerima surat permohonan yang telah berhasil saya konsep sendiri pun dengan kata-kata sumbangan dari orang tua..haha. sebelumnya saya kesel kalau orang tua nyuruh ngetik surat permohonan, atau surat-surat yang lain. tapi kalu ini saya ngerti, kalu kemampuan membuat surat formal itu, penting! alhamdullillah saya diberi cobaan seperti sekarang ini, saya bisa paham struktur surat pemberitahuan itu, dan bagaimana seharusnya kata-katanya dirangkai hingga menjadi kereta api yang akan selalu berjalan searah….(halah2x)
Semoga saja, surat saya diterima, pun kalu seandainya tidak. saya terima. pasrah saja pada yang kuasa. toh, saya sudah berusaha dengan sekuat saya. mulai dari mengurus surat dokter yang ternyata dokternya tak ada, menemui bagian perkuliahan, ibu widji, kemudian saya di suruh menemui ibu Anita, dan terakhir saya disuruh menemui ibu Sudarti. semua kenikmatan ini, atas kehendak TUhan, jadi saya semakin terbiasa menghadapi orang lain. Bukannya saya ingin mendirikan perusahaan investadi, toh harus berhubungan dengan banyak orang. saya baru mengerti, kenapa terkadang di tingkat pendidikan sarjana, biokrasinya sedikit dipersulid, tak lain tak bukan, melatih kita untuk terbiasa berhadapan dengan orang-orang yang berdasi. (ngerti kan maksudnya)
apapun hasilnya, sekali lagi, mulai dengan BASMALLAH, akhiri dengan HAMDALLAH dan ISTIGFAR. semua ini miliknya, dan akan kembali padanya. kita hanya sementara. dan kita hanya bisa berusaha, berdoa, dan berserah diri padaNYa.
<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:"Cambria Math";
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:1;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-unhide:no;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
margin-top:0in;
margin-right:0in;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoChpDefault
{mso-style-type:export-only;
mso-default-props:yes;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
{mso-style-type:export-only;
margin-bottom:10.0pt;
line-height:115%;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>
(tulisan
ini adalah catatan harian gw yang akan selalu mencatat hal-hal yang dirasa luar
biasa, tentunya sebagai penambah semangat gw dalam meraih impian gw, pemacu
semangat ketika kurang termotivasi, ketika ragu pada visi dan misi, dan ketika
rindu pada wanita yang dicintai, serta disaat saya merasa sepi)